19 Januari, 2018

Khotbah Kematian : Tuhan Ada Bersama Dalam Duka

Ayub 3 : 20 – 26; Yohanes 9 : 1 – 7
Manusia sebagai makluk berpikir membuatnya selalu berusaha mencari jawab untuk mengerti demi memuaskan rasa ingin tahu dan tanya. Tapi sampai kapanpun manusia tidak akan berhenti bertanya. Saat sakit, ditimpa masalah dan kematian menerpa orang-orang benar, orang selalu pasang kata ‘mengapa’ dan berusaha mengerti. Kalau orang berdosa yang ditimpa kemalangan maka kita tidak perlu bertanya mengapa karena ia menuai apa yang ditaburkannya. Berbeda ketika kemalangan menimpa orang baik dan sepertinya tidak harus begitu. Kalau apapun yang terjadi kita bilang terima saja itu juga sulit karena manusia makluk beriman tapi juga makluk berpikir. Dan sebenarnya dengan menempatkan tanya, bukan berarti bahwa itu tanda tiada iman.

21 November, 2017

Tampar Pipi Kanan Sorong Pipi Kiri

Matius 5:38-48
Salah satu ajaran Tuhan Yesus yang khas: ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.’
Kalau imanmu sebesar biji sesawi maukah saudara melakukan ajakan ini? Kalau ada yang tampar pipi sebelah kanan langsung sorong pipi kiri sambil bilang ‘Ini yang kiri belum. Tambah lai!”

18 November, 2017

Pelajaran dari Burung Gagak


Pada suatu petang seorang tua bersama anak laki-lakinya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-binc­ang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon di dekat mereka. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.

Orang Kaya vs Nelayan Santai

Seorang pengusaha kaya dari ibukota keheranan melihat seorang nelayan sedang berbaring bermalas-malasan di tepi pantai di samping perahunya.
“Mengapa engkau tidak melaut dan mencari ikan?” Tanya sang Pengusaha.
“Karena ikan yang aku dapat sudah cukup menghasilkan uang untuk hidup hari ini.” Jawab si nelayan.

Damai Hasil Mengelola Hati

Suatu hari datanglah seorang tetangga kepada Nasruddin. Ia mengeluh tentang rumahnya yang sempit sehingga ia sangat merasa bosan dan jenuh.
Ia berkata kepada Nasruddin. “Wahai orang bijak aku jenuh tinggal di rumah. Rumahku seperti neraka. Sangat sempit dan tidak cukup untuk aku dan istri. Apakah yang harus aku lakukan?” tanya si tetangga.